Refleksi Paskah 2016: Mencintai Hingga Terluka




Perayaan Paskah sudah diambang pintu, maka saatnya untuk mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Perayaan Paskah merupakan puncak dan pusat iman kita, karena dalam peristiwa itulah karya Keselamatan Allah bagi kita menjadi nyata. Selama Pekan Suci dan Trihari Suci, kita merenungkan misteri Penebusan kita yang dilakukan oleh Yesus karena KasihNya.

Cinta dan Kasih Allah sungguh nyata di dalam diri kita sampai saat ini. Kita sering mendengarkan dan mengucapkan kata ‘cinta’, namun hanyalah sebatas kata tanpa makna yang sebenarnya terkandung di dalam kata cinta itu sendiri.

Mencintai hingga terluka ingin membawa kita pada pengalaman akan Cinta yang mendalam sampai pada pemberian diri total. Tentu saja kenyataan itu hadir di dalam diri Yesus Kristus. Tema ini mengandung 3 dimensi, yakni love – readiness – sacrifice, semuanya membentuk satu saja, yakni Cinta dan Persembahan diri.

Love = Cinta Kasih

Santo Paulus menuliskan dalam suratnya bahwa ada 3 hal utama, yakni iman, pengharapan dan kasih. Namun demikian yang paling besar adalah kasih (1 Kor 13:13). Kasih menjadi yang terbesar karena Allah adalah Kasih dan Kasih itu memberi hidup kepada manusia. Kasih merupakan dasar bagi kehidupan manusia. Berbagai permasalahan muncul di dalam kehidupan kita, selalu berkaitan dengan kasih. Oleh karena itulah Yesus memberikan perintah baru, yakni supaya kita saling mengasihi seperti Ia yang telah mengasihi kita semua.

Kasih dilambangkan pula dengan hati atau jantung. Ini menunjukkan keseluruhan pribadi manusia dengan totalitasnya. Dari hati ini mengalir kehidupan bagi kita dan sesama kita. Dengan cinta atau kasih, kita membuka hati bagi sesama. Yesus mengundang untuk datang kepadaNya, Ia akan memberikan kesegaran. Yesus memberikan diriNya sebagai air kehidupan, yang menyegarkan dan menghidupkan.

Begitu pula semakin nyatalah bahwa Kasih itu memberi dan menerima karena hatiNya selalu terbuka. Yesus menekankan Perintah Kasih ini, yang di bagian keduanya mengatakan, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Di sinilah terletak kesamaan semua manusia. Bahkan Yesus pun menjadi manusia dan sungguh manusia.

Dari kasih inilah lahir belaskasih yang menjadi nyata di dalam tindakan. Dalam hidupNya, Yesus selalu tergerak hatiNya oleh belaskasih, maka Ia bertindak menunjukkan kasihNya kepada semua yang membutuhkan. Kasih menghantar kita kepada tindakan kasih dalam terang kasih itu, kita berbagi kasih dan berbelaskasih.

Readiness = Kesiapsediaan

“Sungguh Aku datang untuk melakukan kehendakMu” (Ibr. 10:9). Inilah sikap dasar Yesus, sikap kesiapsediaanNya. Tujuan Yesus hanya satu, yakni melakukan kehendak BapaNya bagi keselamatan manusia. Untuk keselamatan itulah, Yesus datang melakukan kehendak Bapa agar dapat terwujud. Kasih Yesus itulah yang menghantar Dia mempunyai sikap sedia, ready. Kasih telah mendorongNya kepada hidup dan bagi keselamatan manusia yang terancam.

Kesiapan ini berarti membawa seluruh diri, totalitas dengan seluruh kepribadian. Yesus dalam menghidupi kesiapsediaanNya ini mengalami berbagai godaan dan tantangan, namun Yesus tetap melangkah. Kesiapsediaan membutuhkan kesetiaan terhadap kesediaan yang telah diberikan secara bebas. Inilah bentuk keterbukaan hati yang nyata, siap untuk memberikan diri kepada yang lain.

Begitu pula dengan Bunda Maria, ia pun menghidupi sikap siap sedia dengan total. Maria tidak banyak mengerti yang diatakan oleh Gabriel kepadanya. Namun yang dimengertinya adalah, Allah sedang berkarya dan ia diminta untuk mengambil bagian di dalamnya. Maka Maria menjawab Gabriel, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Perkataan dan jawaban Maria ini menunjukkan bagaimana kepribadiannya dan kesanggupannya walaupun ia tidak tahu semua yang akan terjadi padanya.

Kesiapsediaan menyadarkan kita akan sebuah keyakinan bahwa kita mengandalkan akan kasih Tuhan yang menyertai dan menguatkan kita. Inilah yang perlu selalu kita sadari karena sikap siap sedia ini akan menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanannya. Maka diperlukan untuk selalu kembali kepada dasarnya, yakni kasih dan mengandalkan kekuatan Tuhan.

Dalam sikap ini sungguh tampak disposisi batin kita berhadapan dengan rencana dan panggilan Tuhan. Jika kita sungguh mencintai Tuhan, maka kehendakNyalah yang pertama akan kita lakukan. Kita siap menempatkan Tuhan di tempat pertama. Yesus bertanya kepada Petrus, apakah Petrus mencintai Yesus. Setelah menjawab ya dan benar, Yesus menyerahkan tugas penggembalaan dombaNya. Maka jawaban ya sekaligus bermakna bahwa mengasihi dan juga berarti siap sedia mewujudkan kasih itu dalam tindakan.

Sacrifice = Pengorbanan

Dalam peristiwa Salib, Yesus menyelsaikan seluruh perjuanganNya di dunia ini. Di Salib itulah Yesus berkata, “Ya Bapa, ke dalam tanganMu, Kuserahkan nyawaku” (Luk 23:46). Sabda Yesus ini merupakan bentuk penyerahan diriNya secara total  kepada BapaNya. Inilah pengorbanan hidupNya hingga tuntas. Kematian Yesus menjadi tanda nyata cintaNya kepada Bapa dan manusia. Semuanya ini mengingatkan kembali ajaranNya, yang mengatakan bahwa seorang sahabat adalah ia yang siapmenyerahkan hidupnya bagi sesamanya.

Ketika Yesus telah wafat, serdadu masih menikam lambungNya dengan tombak sehingga keluarlah darah dan air. Peristiwa ini menunjukkan totalitas cinta Yesus sampai habis. Darah dan air menjadi tanda nyata penyerahan kehidupanNya kepada kita semua. Darah adalah hidup yang mengalir dari hatiNya, jantungNya, yakni dari seluruh pribadiNya. Dengan demikian manusia mendapat aliran kehidupan dari Yesus yang wafat. Begitupun air yang mengalir menjadi penyucian bagi semua manusia yang berdosa sehingga dibersihkan.

Inilah yang dikatakan sebagai Cinta dan Pengorbanan. Cinta yang menjadi kekuatan dasar dan merupakan hidup itu sendiri sekarang sungguh diberikan kepada Tuhan dan sesama. Cinta yang sejati menghantar juga pada sebuah pemberian diri secara utuh dalam pengorbanan. Maka pengorbanan itu sendiri menjadi bagian Cinta dan itu tidak terpisahkan, oleh sebab itu tidak ada cinta tanpa pengorbanan dan persembahan diri. Dalam cinta selalu terkandung dimensi pemberian diri dan pengorbanan.

Sacrifice atau pengorbanan mempunyai unsur kesucian (sacer). Kesucian ini tampak dari pengobanan yang terjadi karena cinta, yang berasal dari Tuhan sendiri. Oleh sebab itu pengorbanan ini sungguh mulia dan mendatangkan kebahagiaan dan kehdidupan. Dalam hal ini baiklah kita ingat akan Sabda Bahagia yang diucapkan Yesus dalam kotbahnya di bukit (Mat 5:1-12). Semua kebahagiaan itu dicapai melalui pengorbanan dengan dasar kasih.

Jelaslah bahwa ‘mencintai hingga terluka’ itu sangat jelas. Kehidupan Yesus yang secara khusus kita renungkan dalam Pekan Suci ini menunjukkan itu. Yesus mencintai kita sampai terluka bahkan sampai memberikan nyawaNya. Maka pemberian diri Yesus ini sungguh besar dan tidak terbayangkan. Semuanya itu hanya mungkin terjadi karena Cinta dan Kesiapsediaan Yesus dalam melakukan kehendak BapaNya bagi manusia. Semuanya itu berkonsekuensi pada PengorbanNya di salib.

Refleksi kita

Tentu saja kita tidak hanya merenungkan dan menyadari begitu luar biasanya kasih Tuhan untuk kita yang disertai pengorbanNya. Sekarang waktunya bagi kita untuk juga melihat ke dalam diri kita masing-masing. Inilah saat yang sungguh baik dalam membuka Pekan Suci dan merayakan Paskah.

  1. “Love and Mercy is the name of God! What is your name?”. Silakan Anda menuliskan, nama apa yang akan Anda berikan bagi diri Anda?
  2. Tuliskanlah apa yang akan lakukan sebagai wujud kasih dan belaskasih Anda kepada Tuhan dan sesama selama Pekan Suci ini dan dalam ‘Year of Mercy’ ini.

 

Selamat mewujudkan Kasih dan Persembahan Diri Anda dalam merayakan Paskah dan Year of Mercy.

 Tuhan memberkati kita semua.

 

 

Romo Johanes Juliwan Maslim, SCJ

 

 

 


Login to post a comment.