Mutiara Iman - Selasa 8 April 2014




Mutiara Iman, 8 April 2014
Hari Biasa Pekan V Prapaskah 

"Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." (Yoh 8:29)

LECTIO : 

Bil. 21:4-9;
Mzm. 102:2-3,16-18,19-21;
Yoh. 8:21-30

MEDITATIO : Jika kita melakukan kehendak Tuhan, maka kalimat yang sama juga bisa kita ucapkan dengan penuh keyakinan, bahwa Tuhan yang telah mengutus kita akan menyertai kita. Ia tidak akan membiarkan kita sendiri, sebab kita berbuat apa yang berkenan kepadaNya. Kita dan Tuhan, mempunyai relasi yang sangat dekat karena saling mempercayai. Kita dan Tuhan seperti dua tranceiver pada frekwensi komunikasi yang sama didalam doa. 

Mengapa kita bisa berbicara kepada Tuhan namun sulit untuk mendengarkan suara Tuhan? Permasalahannya ada pada diri kita, yang sudah terlalu banyak terkontaminasi dengan polusi rohani. Luka batin, marah, kesedihan, kekecewaan terhadap sesama di dunia meninggalkan bekas didalam jiwa kita. Sehingga kita terhalang untuk melihat kebahagiaan, kelembutan, cinta bahkan kemuliaan Tuhan yang hadir dalam hidup kita. Ironis memang, kebahagiaan itu ada dalam hidup kita 'sekarang' namun kita tidak bisa melihatnya akibat kepahitan 'masa lalu'.

Seorang gadis muda tidak pernah merasa nyaman didekat seorang pemuda, dia juga sering tidak cocok dengan atasannya yang selalu pria. Dia ingin segera menikah namun sikapnya tidak membuat lawan jenisnya nyaman. Tidak ada kelainan apapun yang tampak, kecuali dia merasa sulit untuk berdoa Bapa Kami. Ternyata dia membenci ayahnya yang berselingkuh didepannya saat masih kecil. Selama duapuluh tahun dia tidak mampu melihat kehadiran Tuhan dalam wujud pria dalam hidupnya. Akhirnya dia belajar untuk mengampuni ayahnya dan mohon ampun pada ayahnya karena bagaimanapun juga dia adalah anaknya.

Luka batin, terekam di alam sadar maupun dibawah sadar kita, seperti kabut menutupi kebahagiaan bahkan suara Tuhan yang memancar kedalam hati kita. Mari kita singkirkan segala penghalang rahmat Tuhan kedalam diri kita dengan mohon ampun dan mengampuni siapapun, terutama yang dekat dengan kita, terlepas dari siapa yang bersalah, terlepas dari siapa yang memulai atau mengakhiri. Rahmat Tuhan bagi kita, lebih berharga dari semua keangkuhan kita atau keangkuhan orang lain.

CONTEMPLATIO : Imajinasikan anda hadir bersama para murid saat Yesus mengucapkan kalimat itu. Ucapkan kalimat yang sama dengan mengganti huruf "A" dengan huruf 'a' dengan keyakinan yang sama. Rasakan kekuatan yang timbul dalam raga dan jiwa, kekuatan batin yang berasal dari Tuhan. 

ORATIO : Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, aku ... mohon ampun pada ... atas kesalahanku ... Dan ampunilah kesalahannya padaku karena aku sudah mengampuni dia. Berkatilah dia dan keluarganya. Amin

MISSIO : Aku akan mohon ampun pada orang yang paling dekat padaku dan mengampuni dia dan memohonkan berkat Tuhan untuknya. 

Tahun Liturgi 2014 Tahun A/II.

 

Source: https://www.facebook.com/RenunganHarianMutiaraIman


Login to post a comment.