Kamis Putih: Perintah Menjadi Nabi Cinta Kasih




Tibalah kita sekarang dalam Trihari Suci Paskah, yang diawali dengan Kamis Putih. Nuansa dan warna Liturgi pada hari ini memang putih, sesuai dengan namanya, Kamis Putih, namun demikian tentulah maknanya lebih dari sekedar warna itu. Putih menunjukkan kesucian dan ketulusan yang tampak dari Cinta sejati.

Pada Perayaan Kamis Putih ini lahirlah Cinta sejati, yang nyata di dalam diri Yesus Kristus. Ia yang selama ini mengajarkan Cinta Kasih, pada hari ini secara khusus menunjukkan Cinta itu kepada para rasul-Nya, mereka yang selama ini bersama Dia. Cinta itu tampak nyata di dalam pelayanan Yesus dengan membasuh kaki para Rasul-Nya dan perjamuan malam terakhir bersama mereka.

Cinta itu melayani, itulah yang tampil jelas dalam peristiwa Kamis Putih ini. Tugas seorang pelayan yang harus membasuh kaki tuannya, diambil alih oleh Yesus. Walau Yesus adalah Guru mereka, namun Ia sekaligus pelayan mereka. Ini juga bagian dari pengajaran-Nya, yang tidak hanya berbicara. Yesus sering berbuat kepada orang banyak dan melakukan mukjizat. Namun kali ini sungguh berbeda, suatu Hukum Baru yang membaharui seluruh cara berpikir lama. Inilah Cinta Kasih yang selama ini menjadi ajaran utama Yesus dalam sabda dan karya-Nya. Yesus sungguh mencintai semua orang yang dijumpai-Nya, termasuk para rasul-Nya.

Membasuh kaki menjadi tanda jelas, Yesus ingin membersihkan mereka dari kotoran yang ada di kaki mereka. Menjadi jelas, karena Cinta, Yesus ingin membersihkan mereka dari kedosaaan mereka. Yesus mengsihi semua, walau tidak semua mengasihi Yesus, itulah Cinta yang tulus.

Selanjutnya Yesus mengadakan Perjamuan Paskah Yahudi bersama para rasul-Nya. Namun Perjamuan Paskah ini mendapat arti baru karena Yesus menjadikannya Perjamuan Paskah Baru. Dalam Perjamuan ini kembali Yesus menunjukkan Cinta-Nya dengan menghadirkan dan memberikan diri-Nya bagi mereka sebagai makanan.

Roti dan anggur dijadikan sebagai Tubuh dan DarahNya, makanan bagi para rasul-Nya dan akhirnya bagi kita semua. Memberikan tubuh dan darah, berarti memberikan diri dan hidup-Nya sendiri. Dengan demikian pelayanan Yesus disempurnakan dengan pemberian diri-Nya. Dengan makan dan minum, berarti semua bersatu dengan Yesus yang telah memberikan diri itu. Yesus tidak hanya membersihkan dari luar, namun juga dari dalam diri kita. Menerima Yesus berarti menerima keselamatan. Oleh sebab itulah, pemberian ini perlu diterima dengan keterbukaan hati pula.

Selain itu Yesus memberikan pesan kepada para rasul-Nya agar meneruskan misi pelayangan dan pemberian diri ini. Dengan melayani dan memberikan diri, kita semua menghadirkan Yesus kembali sekarang ini. Pesan Yesus jelas, jika kita menjadikan Yesus guru dan Ia melayani kita, maka kita juga harus melakukannya. Demikian pula Yesus berpesan dalam Perjamuan itu, ‘Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku’.

Pesan Yesus di atas bukanlah kalimat imbauan tetapi sebuah perintah. Dengar yang Ia katakan, “Lakukanlah!” Artinya Ia memerintahkan kita para murid-Nya, Anda dan saya, untuk meneruskan perbuatan cinta yang telah Ia contohkan. Tujuannya bukan untuk memuliakan diri sendiri, tidak untuk mendapat pujian atau senang dianggap nyentrik, bahkan bukan dilandaskan motivasi supaya masuk surga tetapi perbuatan cinta itu semata-mata demi keselamatan sesama dan lingkungan.

Hal ini tidak berlebihan, karena apa yang dilakukan Yesus adalah untuk keselamatan kita manusia, bukan untuk kepentingan Dia sendiri. Kini saatnya kita menjalankan peran Yesus untuk melayani sesama tanpa pamrih dengan menjadi nabi cinta kasih atau bahasa sekarang jamak disebut agen perubahan.

Mulailah melakukan perubahan dari diri sendiri melalui hal-hal kecil, misalnya memberikan senyum tulus kepada sesama. Menyapa bawahan dengan senyum atau ucapan, “selamat pagi…” Memberi kecupan kepada istri atau suami dan anak-anak di pagi hari sebelum memulai aktivitas. Sabar dan tidak mudah mengumpat di jalanan di kala macet atau ada pengendara lain yang seenaknya.

Menjadi agen perubahan tidak harus wah. Tiru saja Yesus, melakukan hal kecil dan dari diri sendiri tetapi dengan cinta yang besar. Pada saat itu dilakukan, kita telah menjalankan perintah-Nya menjadi nabi cinta kasih. Inilah momen yang tepat, saat kita merayakan Kamis Putih.

Semoga pada Hari Kamis Putih ini, hati kita menjadi semakin putih dan bersih karena Cinta yang selalu siap melayani dan berkorban.

 

Romo Johanes Juliwan Maslim, SCJ


Login to post a comment.