Jumat Agung: Cinta Yang Berkorban




Hari ini kita merayakan Jumat Agung atau Good Friday. Di hari kematian Yesus ini, warna yang dominan dalam Liturgi adalah merah. Jelas ini warna darah dan pengorbanan yang menjadi perhatian dan permenungan kita pada hari Jumat Agung ini. Setelah memberikan Tubuh dan Darah-Nya dalam Perjamuan Malam Terakhir kepada para rasul-Nya, sekarang Yesus menuntaskan pemberian diri-Nya itu kepada Bapa. Korban tak berdarah yang dipersembahkan-Nya pada Perjamuan Malam, sekarang menjadi korban berdarah di atas kayu salib. Cinta Yesus tidak bisa dilepaskan dari pengorbanan-Nya, karena dengan korban itulah cinta menjadi nyata.

Peristiwa pada hari ini membuka mata kita akan totalitas Cinta Yesus bagi kita semua. Melalui peristiwa Yesus ini, kita melihat kekuatan Cinta Allah bagi kita semua, yang bertujuan hanya satu, yakni menyelamatkan kita. Semuanya itu bagi kita dan kebahagiaan kita yang masih berjuang di dunia dan menuju ke Rumah Bapa. Oleh sebab itu jika kita memandang Yesus yang tersalib, kita memandang diri kita sendiri. Seharusnya kitalah yang disalib karena kedosaan kita, seperti para penjahat itu. Namun tidak jarang kita hanya memandang, kadang dari jauh dan tidak jarang malah melupakan peristiwa Salib itu. Saatnya sekarang kita memandang dan memeluk Salib Kristus ini, karena itulah diri kita juga. Melalui Salib itu pula, kitaditebus dan dibebaskan oleh Yesus Kristus.

Dengan kekuatanNya yang tersisa, Yesus berkata: “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu”. Sejak kedatangan-Nya ke dunia, Yesus sudah mempunyai komitmen jelas, yakni melakukan kehendak BapaNya. Oleh sebab itu Yesus selalu menyatukan diri-Nya dengan Bapa dan Kehendak Bapa. Yesus selalu konsisten walaupun berbagai konsekuensi harus dihadapi-Nya, termasuk penyaliban-Nya ini.

Di akhir hidup-Nya di dunia ini, Yesus secara penuh menyerahkan seluruh hidup-Nya kepada Bapa-Nya. Inilah kesetiaan-Nya dan kesatuan-Nya kepada Bapa yang tidak terpisahkan. Yesus mempersembahkan seluruh diri dan perjuangan-Nya sejak kedatangan-Nya ke dunia sampai saat terakhir ini kepada Bapa. Inilah cintaNya dan persembahan hidupNya. Tidak ada lagi yang tersisa di dalam diri-Nya, semua sudah dikorbankan-Nya. Bahkan pakaian-Nya pun sudah tidak ada, hanya sehelai kain yang masih melekat di tubuh-Nya.

Yesus wafat di salib yang disamakan dengan seorang penjahat. Ternyata setelah wafat pun, Yesus masih ditombak serdadu. Tidak hanya sisi luar Yesus yang dilukai, namun bahkan sampai ke dalam tubuh-Nya juga dilukai. Lambung ditikam dengan tombak sehingga mengalirlah air dan darah. Sungguh hancur semuanya, sehingga dikatakan bahwa Ia sudah tidak lagi menyerupai manusia. Lambung yang sobek itu mengalirkan darah yang keluar dari jantungNya yang terluka karena tombak.

Jantung Yesus yang terluka, yang sering kita gambarkan dengan hati yang terluka, itulah gambaran nyata pribadi Yesus yang luka oleh tombak dosa kita. Darah yang mengalir itu adalah Cinta dan hidupNya untuk kita. Ia mati supaya kita memperoleh hidup dan itulah hidup yang abadi. Semuanya sudah Yesus serahkan kepada Bapa bagi keselamatan manusia. Selanjutnya, Ia serahkan pula kepada Bapa, apa yang akan terjadi kepada diri-Nya dan manusia.

Inilah saatnya kita tidak meratapi Yesus yang tersalib, melainkan meratapi kedosaan kita yang menyebabkan Yesus menderita dan wafat. Apakah kita masih akan terus berbuat dosa yang berarti terus melukai-Nya?

 

Romo Johanes Juliwan Maslim, SCJ.


Login to post a comment.